BIOGRAFI ALM. KH YUSUF MUHAMMAD (GUS YUS)

23 Aug
KH YUSUF MUHAMMAD

Gus Yus lahir di Jember, 23 Pebruari 1952. Ayah (beliau, KH Muhammad, seorang da’i yang cukup disegani di Jember. Sementara ibunya, Nyai Zaenab, adalah putra seorang kiai yang berpengaruh di Jember, Kiai Shidiq. Kiai Shidiq melahirkan putra putra yang di kemudian hari menjadi tokoh nasional seperti KH Mahfudz Shidiq dan penggagas Khittah NU, KH Achmad Shidiq. Kiai Shidiq asal Lasem Rembang ini juga memiliki jalinan erat dengan pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari. Tidak meng herankan, jika darah keNU an Gus Yus sedemikian mendarah daging.
Sejak umur 3 bulan, Yus kecil telah ditinggal ayahnya. Yus kecil hanya tinggal bersama ibunya, Nyai Zaenab Shidiq. Saudara Yus berjumlah enam orang. KH Hizbullah Huda (almarhum), KH Farouq Muhammad (almarhum), Dra. Hj. Fathiyyah Wajiz, Dra. Hj. Noer Endah Nizar, Dra. Hj. Elok Faiqah, MM dan Drs. KH Nadzir Muhammad, MA. Oleh ibunya, Yus bersama saudaranya ditempa pendidikan kedisiplinan yang tinggi. Apalagi, sang ibu menjadi single parent yang juga berposisi sebagai ayah. Karena himpitan ekonomi, sang ibu terpaksa harus berjualan barang amanah milik santri santrinya. Sang ibu sering keliling menawarkan barang dagangannya. Sesekali, wali santri dan alumni juga mengambil dagangan di pondok untuk dipasarkan ke tempat lain.

“Ibu terus dagangan melijo. Jadi, mengambil dagangan amanah dari toko toko. lbu ambil barang. Kadang, wali santri atau alumni yang mengambil di sini atau ibu yang keliling. Saya sering Wiling ke Puger, naik becak. Saya dengan adik bergantian. Waktu itu, di SD ada yang masuk pagi dan siang. Pokoknya, dari kita ada yang libur. Salah satu dari kita membantu ibu “, kenang Gus Nadzir, kakak kandung Yus. Padahal, Nadzir menambahkan,” Ibu sewaktu ditinggal ayah, tidak tahu pojoknya pasar. Ini karena didikan Mbah Shidiq, “. Nyai Zaenab berkeinginan menyekolahkan putra putranya sedemikian tinggi sehingga ia harus bekerja keras mendapatkan biaya tersebut.

Memang Yus kecil memulai pendidikannya (1959) di SD Jember Kidul I yang sekarang berganti nama SD Kepatihan 1 di A Dr. Sutomo no. 14. Hampir keluarga besar Bani Shidiq sekolah di sana. Gus Yus kecil yang dulu bernama Muhammad Yusuf Syamsul Hidayat ini baru menyelesaikan pendidikan SD nya pada tahun 1965. Seperti yang lain, masa kecil Yus dilalui dengan ceria. Bahkan, Yus kecil sudah terlihat sebagai orang yang periang dan senang guyon. Suatu saat, ” Saya pernah terkesan juga. Zaman dulu, anak anak tidak krasan kalau pakai sepatu. Sepulang sekolah, lewat lapangan Talangsari, sepatu Yus ditaruh di belakangnya. Sambil ditenteng tangan, sepatu itu ditaruh dipundaknya tutur Alfan Jamil, teman SD Yus.

Yus kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPN I Jember dan SMAN I Jember. Pada saat itu, Yus sudah aktif di organisasi. Bahkan, pada usia dini, yakni 13 tahun, Yus muda ikut aktif mendirikan IPNU di SMPN tersebut dan berhasil menghentikan seorang guru SMPnya. S emasa di SMA, putra bungsu Nyai Zaenab ini juga ikut OSIS, malah didapuk menjadi sekretarisnya. Selain itu, Yus juga aktif menjadi penyiar di Radio ASHRIA DUA. Setidaknya, ada tiga radio amatir yang dikenal waktu itu. Radio ASHRIA SATU yang terletak di pondok ASHRI sekarang ini, Radio ASHRIA DUA yang terletak di rumah Achmad Shidiq dan Radio SEMERU LIMA, yang ada di kantor NU JI. Semeru no 5, sekarang dekat Bank Mandiri di JI Wijaya Kusuma. Yus, secara bergantian, menjadi penyiar bersama M. Farid Wajdi, Alfan Jamil, Hasyin Syafrawi, dan lain lain. Memang, di Radio ASHRIA DUA, merupakan base camp pelajar pelajar muda NU, baik yang tergabung di IPNU, maupun PMIL Di radio ini, Yus lebih dikenal nama udaranya: ARDLIYAYUSITA.

Seusai SMA, Yus melanjutkan kuliah di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Kalijaga sekaligus Fakultas Hukurn UGM. Keduanya di Yogyakarta. Tapi, karena kesulitan mernbagi waktu, Yus tidak meneruskan pendidikan di UGM dan malah concern di IAIN. Kendati jenjang pendidikan fomalnya umum (SD, SMP dan SMA), di IAIN Yus tidak tertinggal dengan yang lain. Bahkan, Yus muda kerapkali menunjukkan prestasi yang gernilang. la kerap kali menorehkan prestasi akademiknya. Di sela sela kegiatan kernahasiswaannya, Yus juga nyantri di Pondok Pesantren Krapyak, asuhan KH Ali Maksum. Di sini, seperti kakaknya, Yus belajar mendalarni agarna pada kiai sepuh dan alim dari Rembang tersebut.
Tapi, kecerdasan Yus tidak hanya diasah di tingkat akadernik semata, melainkanjuga di masyarakat. Di kota budaya ini, Yus juga terlibat sebagai aktifis kampus yang piawai, baik di intra maupun ekstra. Di intra karnpus, Yus pemah menjadi wakil sekretaris Dewan Mahasiswa IAIN Yogyakarta. Sementara itu, di ekstra. kampus, ia juga pernah menjadi Ketua Umurn PMll Cabang Yogyakarta pada tahun 1976. Kawan semasanya waktu itu, Selamet Efendi Yusuf, lkhwan Syam, Firdaus Basuni dan lain lain. Hiruk pikuk di bawah tangan besi Orde Baru, menyebabkan Yus beserta kawan kawan aktifisnya pernah dirnasukkan sel korem Yogya dan sernpat dibawa ke LP Wirogunan, karena dicurigai terlibat dalam aksi Malari bersarna Hariman Siregar tahun 1974. Tapi sesungguhnya, ini hanya dalih penguasa untuk mengkait kaitkan Yus dan kawan kawannya dengan Hariman Siregar agar dapat dijebloskan ke penjara.

Pada tahun 1980, Yus melanjutkan kuliah di Fakultas Syari’ah Universitas Madinah. Narnpaknya, ia lebih at home dengan pendidikan agarnanya. Sernasa kuliah di kota ternpat hijrah Nabi Saw ini, Yus juga tampak menonjol dengan teman temannya yang berasal dari Gontor, Padang, Sumatera dan lain lain. Padahal, seperti diketahui, di Madinah waktu itu, sudah ada sekitar 250 hingga 300 an mahasiswa Indonesia yang beragam latar sosialnya. Ada yang dari NU, Muhammadiyah, Persis, al Irsyad, dan lain sebagainya. “Gus Yus, menjadi salah satu tokoh yang disegani”, tegas KH Hasan Basri Lc, teman sewaktu di Madinah. KH Hasan Basri yang juga Rektor JAI lbrahimy Sukorejo ini adalah kakak kelas, satu tingkat di atas Gus Yus. Bagi Hasan Basri, Yus kerapkali menjadi “pejuang”,dalam soal membela paharn ahlussunah wal jama’ah. Ini terlihat ketika keponakan KH Achmad Shidiq ini menjadi Ketua KMNU Komisariat Madinah dan Perhimpunan Pelajar Islam Indonesia,

Di tengah tengah keasyikannya belajar di Madinah, Yus besar yang kemudian akrab dipanggil Gus Yus ini menikah dengan istri tercinta, Siti Rosyidah pada tahun 1981. Dengan penuh suka cita, mahasiswa Madinah ini pulang untuk sementara waktu ke Indonesia. Siti Rosyidah sendiri, waktu itu masih kuliah di JAIN Sunan Ampel Surabaya. Sepasang manusia yang berbahagia ini dinikahkan oleh KH Hamid Pasuruan. Memang, KH Muhammad, abah Gus Yus, menitipkan dua putranya yakni Gus Nadzir dan beliau untuk dinikahkan kiai yang dikenal waliyullah tersebut.

Seusai nikah, beliau kembali ke Madinah bersama istri tercinta, meski sang istri sempat melanjutkan kuliah lagi selama tiga bulan di Surabaya. Di Madinah, untuk memenuhi kebutuhan sehari harinya, beliau dan istri sempat berjualan, baik untuk me layanijarfla’ah haji atau umroh. “Sebab, waktu itu ekonorm kita masih minim”, kenang Siti Rosyidah, istrinya. Gus Yus akhirnya dapat menyelesaikan kuliahnya. Tahun 1984, mereka berdua boyongan ke Indonesia.

Sumber: Gus Yus Dari Pesantren Ke Senayan, Halaman 15-21

Nyai Hj. Zainab Shiddiq. Ibu Yang Melahirkan Banyak Tokoh

23 Aug

A. KEHIDUPAN NYAI ZAENAB

Nyai Hj. Zainab Shiddiq lahir di Jember pada hari Ahad 22 Romadlan 1333 (1915). Zainab adalah putri Mbah Shiddiq yang keempat dari ibu Nyai Maryam. Beliau sudah menjadi piatu sejak kecil karena di tinggal wafat Nyai Maryam saat pulang menunaikan haji.

Zainab di didik mengenal agama, sholat, dan syariat agama yang langsung oleh abah dan uminnya. Abah sendiri yang mengajar sistem kitab kuning pada Zainab di rumah ibu Nyai Maryam. Rumah (ndalem) Mbah Shiddiq ada dua yaitu Ndalem Utara dimana beliau tinggal bersama dengan Nyai Maryam. Di rumah inilah putra-putri Mbah Shiddiq dan Nyai Maryam tinggal. Mereka antara lain; Mahfudz Halim, Zainab, Abdulloh dan Achmad

Sedangkan di Ndalem Selatan, tempat tinggal beliau dengan Nyai Mardliyah dan putrinya yang semata mayang yaitu Zulaikho dan tiga orang anak tirinya yaitu putra-putri Nyai Mardliyah dengan H. Masyhuri (Sholeh, Khotijah dan Zulaikhoh).

Pada tahun 1928, Nyai Maryam mengajar mengaji santri putri. Para santri putri tersebut di tempatkan di Musholla darurat yang bersebelahan dengan Ndalem Utara, Murid-Muridnya antara. lain Cik Alimah (Ny. Hj. Abdullah). Saat itu pengajaran lebih di tempakan pada amaliahnya atau ilmu praktek beribadah. Pernah seorang santriwati bertanya “Mengapa berdo’a kok pakai tangan menengadah terbuka”. ”Oh…, itu biar tidak bocor do’anya “, jawab Nyai Maryam berkelakar tetapi filosofis. Zainab dinikahkan oleh Abanya dengan KH. Muhammad bin KH. Hasyim dari Mojosari pada tanggal 17 Sva’ban 1351 H (16 Otober 1932).

Sebelum menikah dengan Nyai Zainab, KH. Muhammad bin Hasyim sudah menikah dengan Nyai Muniroh binti Ismail, Lasem. Mereka dikaruniai 5 orang putra yaitu: Hafsin, Maulah, Muhammad, Roqib (wafat kecil) dan Zahroh (wafat kecil), dan akhimya Nyai Muniroh wafat meninggalkan 3 putra yang masih kecil-kecil.

KH. Muhammad adalah tokoh ulama yang aktif berjuang di NU. Pengabdiannya yang Lulus ikhlas dan memiliki kealiman agama sehingga menghantarkannya dipercaya sebagai salah seorang Awan HBNO pada periode Ro’is Akbar Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dan ketua Tanfidziah HBNO-nya adalah KH. Machfudz Shiddik. Kyai Machfudz akrab sekali dengan Kyai Muhammad la tertarik pada Kyai Muhammad karena kecerdasan, ulet dan guyonannya. Kyai Muhammad berkepribadian humoris sehingga banyak orang suka padanya.

Profesi Kyai Muhammad adalah Pokrol (Pengacara hukum) di samping, tugas rutinnya selaku guru ngaji. Sebagai Pokrol, Kyai Muhammad banyak membela orang-orang yang tertindas dalam hukum. Termasuk Kyai Wachab Chasbullah-pun sering dibela

dalam pengadilan dulu. Ketika KH. Machfudz dan KH. Hasyim Asyari ditahan Jepang, Pokrol Kyai Muhammad-lah yang getol melakukan pembelaan hukum. Sampai dibebaskannya 2 tokoh teras NU itu, berkat keuletan diplomasi hukum Kyai Muhammad
Konon, Kyai Muhammad berpenampilan sangat wibawa. Tentu saja kekyaiannya itulah yang menambah wibawa penampilannya. Setiap orang yang berhadapan dengannya, pasti keder. Mungkin hidzib dan amalan wiridnya yang ampuh sehingga berpenampilan wibawa.

“Kang, aku golekno bojo…, Mosok Sampeyan gak saaken nang aku/Kang, aku carikan istri…, Masa Sampeyan tidak kasihan padaku “, kata Kyai Muhammad suatu hari pada Kyai Machfudz. Hanya pada kang Kyai Machfudz, la. berani mengutarakan isi hatinya yang rahasia itu. “Ono. Sampeyan oleh adikku wahe/Ada, Sampeyan dapat adikku saja “, jawab Kyai Machfudz disela-sela suasana santai dalam. kongres.

Begitu selesai acara kongres mereka, berdua ke Jember. Lobbi kecil ini ternyata. bermanfaat. Jadilah Kyai Muhammad menikah dengan Nyai Zainab. Setelah 3 bulan pemikahannya barulah Kyai Muhammad memboyong 3 putranya yang sudah piatu: Hafsin, Maulah dan Muhammad.

Kepribadian Kyai Muhammad yang humoris menjadikan sangat dekat dengan saudara-saudar ipar dan tetangganya. Hobinya makan kue pisang goreng bersama-sama saudara. iparnya & Hanya untuk makan kue kesukaannya itu, ia panggil semua adik ipamya. (Nyai Zulaikho, Solikhah, Abdullah dan Achmad. Shiddiq). Bahkan sepulang dari tabligh, Kyai Muhammad sudah teriak-teriak (di pintu gerbang pondok) memanggil saudaranya itu, sambil menenteng oleh-oleh.

Kyai Muhammad juga mengajar mengaji membantu mertuanya. Dan saat itu juga, la menjabat sebagai kepala penghulu di Jember dan Ta’mir Masjid Jamik bersama Kyai Halim. Mengajar di rumahnya, sambil duduk di atas safrah (Amben/dipan kayu besar dan panjang). Yang banyak diajarkan adalah Fiqih dan Akhlaq (tasawwuf). Sering beliau bercerita tentang kisah Nabi-nabi dalam menjelaskan pelajarannya. Selingan cerita itulah yang banyak membekas pada santrinya.

Sepeninggal Nyai Maryam, Nyai Zainab meneruskan pengajaran kitab kuning pada para santriwati. Kepribadiannya yang sabar dan telaten itulah, lambat laun jumlah santriwatinya bertambah banyak Dan Musholla kecil warisan Nyai Maryam itu sudah tidak muat menampung santriwati yang berdatangan dari desa-desa dan para tetangganya.
Selanjutnya, dibangunlah gedung musholla dan empat kamar santriwati di sebelah barat rumahnya(lokasi sekarang). Bahkan pada peresmian musholla tersebut dihadirijuga oleh KH. Achmad Dahlan (Menteri Agama). Sejak itu diumumkan nama Pesantren itu “Pesantren Putri Alawiyah”. Nama Alawiyah adalah untuk mengenangiasa Haji Alwi yang mewaqofkan tanah itu

Gagasan besar untuk menjadikan Pesantren Alawiyah sebagai kawah Candra di muka muslimah di Jember menjadi angan-angan suami istri ini. Tapi rupanya Alloh Swt. masih mengujinya dengan wafatnya Kyai Muhammad pada tahun 1952. Kyai Muhammad wafat malam Selasa 10 Romadion 13…. H (tahun 1952 M). Beliau wafat dengan meninggalkan putra-putrinya yang masih kecil (yatim). Anak sulungnya (Hizbullah) masih berumur 12 tahun dan sekolah di SMI (Sekolah Menengah. Islam) Jember. Kyai Muhammad dimakamkan berkumpul dengan abah-mertuanya dan saudara-saudaranya di Turban  Condro

Pernikahan Kyai Muhammad dengan Nyai Zainab dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:

1. Hizbullah (H. Hizbullah Huda), beliau adalah aktivis NU dan PPP. Ialah ketua Ansor Wilayah Jawa Timur tahun 1965 – 1970 yang berani menggerakkan Banser (Barisan Serba Guna) Ansor menandingi dan membasmi PKI di Jatim. la juga yang mendirikan PMR (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), bersama 13 orang deklamator lainnya antara lain: Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairi (Jakarta), Shobih Ubaid (Jakarta), Ma’mun Sukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makki (Yogja), Munsif Nahrowi (Yogja), Nuril Huda Su’ adi HA. (Solo), Laili Mansur (Solo), Abdul Wahab Jailani (Semarang), M. Kholid Marbuko (Malang) dan Ahmad Husein (Ujung Pandang). Pengabdiannya yang lama di NU dan PPP mengantarkannya sebagai:
a. Wakil Ketua DPR – GR Jatim (1968 – 1971)
b. DPRD-Jatim /MPR-RI (1971-1977)
c. DPR-RI/MPR-RI (1977-1987)

Gus Hiz ini wafat Hari Jum’at 28 April 1995 1995 dan di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

2. Faruq (KH. Faruq Muhammad), adalah muballigh terkenal di Jember dan pendiri Pesantren Riyadlus Sholihin Jember. Kyai Faruq mengabdi sebagai kepala Depag Jember, selanjutnya wafat tahun 1988 di makamkan di komplek pesantren Riyadush Sholihin Jember.

3. Fatchiyah (Dra. Nyai Hj. Fatchiyah), adalah dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Sekarang beliau sebagai ketua Muslimat NU Wilayah Yogja. Beliaulah salah seorang pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU).

4. Faridah (wafat kecil)

5. Nur Ajibah Indah (Dra. Nyai Hj. Endah Nizar, Lc.), adalah istri Alm. Drs. H. A. Nizar Hasyim (Dekan Fak Tarbiyah LAIN Jember). Profesi beliau sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel dan UNSURI Surabaya. Nyai Endah aktif sebagai Wakil Ketua Muslimat NU Jawa Timur sampai sekarang.

6. Faichotul Himmah (Dra. Nyai. Hj. Elok Fajqotul Himmah), sekarang, mengasuh Pesantren Zainab Shiddiq. Beliau termasuk muballighah dan sekretaris Muslimat NU Jember. Duetnya bersama Dra. Nyai Hj. Nihayah Achmad Shiddiq dalam Muslimat telah berhasil mendirikan Rumah Bersalin Islam Muna Parahita di Jember.

7. Nadzir (Drs. KH. Nadzir Muhammad MA), adalah mantan ketua dewan Mahasiswa IAIN dan aktivis PMII Yogya. Kyai Nadzir meneruskan karir politiknya di PPP Jatim dan pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PPP. Kemampuannya sebagai, intelektual dan politisi menjadikannya disegani oleh kawan dan lawan.Sekarang Beliau Pengasuh Pesantren Darus Sholah meneruskan perjuangan Alm. KH Yusuf Muhammad

8. Nur (wafat kecil)

Muhammad Yusuf Samsul Hidayah (Drs. KH. Yusuf Muhammad LML.), adalah pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darus Sholah Jember. Mantan Pengurus Pusat IPNU dan PB PMII inilah yang menggalang Kyai-kyai dalam wadah LPAI (Lembaga Pembinaan AkhIaq Islamiyah) di Jember., beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Kyai Yusuf inilah yang menurut anggapan banyak orang mewarisi kharisma Kyai Achmad Shiddiq sebagai figur pemikir dan Muballigh kondang. beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PKB. Beliau meninggal dalam musibah kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, bersama 26 korban yang lain. Kecelakaan itu terjadi sore hari di Bandara Adi Sumarmo, saat pesawat tergelincir sesaat sebelum berhasil mendarat di bandara yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi Muktamar NU di Solo. Namun demikian, jenazah Gus Yus baru dapat dipastikan keberadaannya pukul 22.30 WIB.

Saat itu, beliau hendak hadir kembali dalam Muktamar NU ke 31. Sebelumnya, yakni pada waktu pembukaan Muktamar NU yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah, Gus Yus sudah hadir, malah bersama istri, Siti Rosyidah dan putranya, Ahmad Syarif Cornel Aulawi. Hanya, beliau harus ke Jakarta hari itu lantaran melaksanakan tugas sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI, untuk rapat bersama Mensos Bachtiar Chamsah. Sore hari itu, usai rapat dengan Mensos, (30/ 11), Gus Yus bermaksud ke Solo menghadiri sejumlah perternuan Muktamar. Rencananya, esok pagi (1/12), beliau berencana ke Jakarta kembali, untuk menghadiri rapat dengan Menteri Agama, Maftuh Basuni. Beliau di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

Kesulitan demi kesubtan dalam hidup menguji Nyai Zainab.Sepeninggal suami, membawa resiko bagi Nyai Zainab berperan anaknva yang menuntut untuk mencan’n’zqi sendiri. Disamping itu, la dituntut kesabarannya sebagai ibu rumah-tangga, yang mendidik anak anaknya. Bahkan Nyai Zainab mendidik para santri dan masyarakat. Alloh swt. jualah yang mengatur taqdir kehidupannya.

Mulailah Nyai Zainab berdagang kecil-kecilan. Setelah sholat subuh dan mengajar santri, Nyai membawa dagangannya keliling daerah-daerah dengan naik becak. Sore hari menjelang Ashar, barulah beliau datang. Begitulah dilakukan setiap hari.

Nyai Zainab membuat peraturan pada anak-anaknya Semua anak-anaknya wajib membantu usaha dagang ibunya Teknisnya diatur bergiliran. Senin adalah piketnya hizbullah, Selasa tugas si Faruq. Begitulah seterusnya jadwal piket membantu dagangan ibunya dilakukan bergiliran pada semua putranya. Dan bila ada yang melanggar (tidak piket) maka ganjaran cetolan (cubit) paha sudah disiapkan.

“Kowe yen gak kerja, gak iso sekolah! ” (Kamu kalau tidak kerja, tidak akan bisa bersekolah) begitulah nasihat Nyai pada anak-anaknya.

Pembagian tugas kerja diterapkan. Hizbullah dan Faruq membuat strimin kudung. Seringkali keduanya balapan “siapa yang paling cepat dan banyak hasilnya”. Faruq yang lugu itu membuat dari pagi hingga sore (ngoyo) sedang Hiz hanya kerja santai-santai. Tapi tanpa setahu Faruq, Hizbullah ngebut kerjanya pada malam hari hingga subuh.

Ternyata watak Faruq yang lugu itu menjadikannya sebagai ciri kekyai-annya Dan Hizbullah yang banyak akal dan ulet itu muncul sebagai politisi kawakan. Sebagai pedagang keliling, arealnya luas sekali. Pernah si bungsu Yusuf diperintah ibunya untuk (bersepeda) nagih uang dagangan ke Lengkong – Mumbulsari. Nadzir sering ditugaskan ke Tanggul, sehingga perlu naik kareta api.

Ternyata, Nyai Zainab tidak hanya sekedar dagang saja. Sambil berdagang dimanfaatkannya pula untuk berdakwah/tabligh. Banyak Majlis Ta’lim (kelompok pengajian) dan ranting-ranting Muslimat NU yang berdiri atas prakarsanya. Sambil berdagang, la kumpulkan beberapa orang dan diisi pengajian. Saat itu, beliaupun menjabat sebagai wakil ketua Muslimat NU.

Nyai Zainab-pun terlibat aktif dalam pendirian “Sekolah Muallimat” tahun 1953. Bersama Kyai Dzofir, KH. Ridwan, Imam Sukarsan, Pak Cholil Subari, KH. Shodiq Machmud di dirikan Madrasah yang khusus untuk mencetak calon guru-guru agama putri. Pada waktu yang bersamaan Mereka pun merintis berdirinya PGA (Pendidikan Guru Agama) di Gebang. Pada awalnya klas-klas dalam Mu’allimat ditempatkan di Ndalem Nyai Zainab dan rumah Kyai Makmun (sekarang rumah KH. Umar Ismail). Sekarang Madrasah Mu’ allimat itu diganti nama “Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Masyitoh”.

Selama mengajar santri, Nyai Zainab menekankan pada Fasholatan, Al-Qur’an dan Fiqih. Hanya untuk tartil Fatihah, seorang santri lulus dalam waktu 2 minggu. “Fatihah itu rukunnya sholat. Kalau tidak tartil bacaannya maka tidak sah sholatnya”, kata Nyai Zainab menerangkan tentang pentingnya bacaan Al Fatihah.

B. RESEP MENDIDIK ANAK
Selain dikenal sabar, Nyai Zainab yang janda itu mempunyai kemauan keras mendidik anak anaknya setinggi mungkin. Dengan keras la pentingkan pendidikan anak-anaknya walaupun rizqIi”untuk makan sulit”. Tapi. Allahlah yang menolong hambanya. Semua putra-putrinya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya secara memadai:
1. Hizbullah sampai ke Fakultas Hukum Unair Surabaya tingkat Akhir. la tak mnyelesaikan skripsinya karena sibuknya dalam pengabdian politik NU-nya.
2. Faruq bisa menyelesaikan sarjana mudanya, di Fakultas Kulliyatul Qodlo’ UNNU (Universitas NU) di Solo.
3. Fatchiyah dan Elok bisa menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
4. Endah bisa selesaikan Lc-nva di Al-Azhar Mesir
5. Nadhir setelah, menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai MA-nya dari Universitas Cartoum Sudan Afrika.
6. Yusuf setelah menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai mencapai LML-nya di Universitas Madinah – Arab Saudi.

Orang banyak menyoroti keberanian Nyai mengirim Endah ke Mesir. Saat itu hanya Endah satu-satunya wanita di Jawa Timur yang, kuliah di Mesir. “Awas Iho…, Apa Bu Nyai tidak khawatir anaknya jadi penari perut di Mesir”, diantara kritik banyak orang. Namur Nyai Zainab yakin anaknya tak akan membuat aib keluarga. Kebiasaannya (Istiqomahnya) tirakat tidak tidur malam hari, puasa, khatam Alqur’an dalam seminggu, baca dalail merupakan benteng, dan sekaligus motivasi kuat yang mendorong kesuksesan anak-anaknya.

Pada suatu. ketika, Fatonah (santrinya) bertanya sambil mijiti Nyai Zainab: “Nyai, dek remmah reseppah bisa ngagungi putrah sih deddih kabbih/Nyai, bagaimana resepnya panjenengan bisa memiliki putra-putri yang jadi tokoh semua .

ye prihatin odekna nahka ngandung. Ngemis do ‘a seongguh-ongguh ka Pangeran. Bisa terakat, bisa puasa, bisa hatam qur ‘an seminggu/la harus hidup prihatin ketika mengandung. Mengemis dalam do’a dengan sungguh sungguh pada Alloh Swt. Bisa berwujud tirakat, puasa, mengkhatam Alqur’an tiap minggu”, kata Nyai kalem sambil tetap tangannya bergerak-gerak menandakan hitungan dzlkir hatinva. Nyai Zainab memang ahli berdzikir dan membaca sholawat.

Tepat pada Selasa Subuh tanggal 22 Dzulhijjah/September 1981 M), Nyai Zainab wafat dengan senyuman surganya. Nyai Zainab Shiddiq dimakamkan di Turbah Condro, ditempatkan bersama makam Abah dan saudara-saudaranya. Beliau wafat setelah berhasil menvelesaikan tugas beratnya yaitu mendidik anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi dan menghantarkan pada jenjang pengabdian ketokohannya di masyarakat. Dengan kesederhanaan, kesabaran dan keteguhan serta keistiqomahannya, Nyai Zainab Shiddiq telah melahirkan tokoh-tokoh besar pada zaman itu

Beberapa tahun kernudian, orang Banyak dikejutkan dari makamnya. Ketika itu orang sedang menggali makam Kyai Abdullah Shiddiq yang tempatnya bersebelahan dengan makam Nyai Zainab. Tanpa terduga, cangkul si penggali kubur mengenai kafan mayat Nyai Zainab, yang ternyata masih utuh dan berbau harum semerbak. Cepat-cepatlah ditutup tanah lembaran kafan yang muncul itu. Tetapi harumnya masih semerbak dan dapat tercium oleh pelayat yang lain.

Allah Swt. menunjukkan bahwa hambanya yang sholihah seperti Nyai Zainab, mengharomkan pada tanah dan binatang binatang melata, untuk mendekati mayat sucinya. Derajat itulah pertanda nyata bagi seorang Waliyullah. Untuk mengenang jasa beliau, sejak tahun 1981 namanya di abadikan pada penggantian nama PP Alawi’yah, yang sejak wafatnya hingga sekarang pesantren tersebut bemama “PP. Zainab Shiddiq”(Sumber ; Buku Biografi Mbah Shiddiq)

 

 

KH Dhofir Salam Alm.

23 Aug

KH. DHOFIR SALAM JEMBER

Kyai Dzofir, Figur Ulama Pemberani

Kesan KH Mansur Sholih, Ro’is Syuriah Nahdlatul Ulama

Cabang Jember sejak tahun 1999 s/d sekarang,

 

Saya kagum pada keikhlasan beliau berjuang di NU sejak lama dan bahkan kontribusi beliau terhadap perjuangan Ma’arif NU ditunjukkan dengan merintis berdirinya sekolah-sekolah untuk warga NU.

Apa resepnya sehingga beliau dapat sukses berjuang tsb? Menurut saya, Kyai Dzofir memiliki semangat As Syaja’ah yaitu keberanian yg diikuti dgn perhitungan yang matang. Tentu saja perhitungan yang matang ini membutuhkan kesabaran  dan ketabahan. Merintis UIJ saat itu membutuhkan keberanian Kyai Dzofir ditengah-tengah apatisme tokoh untuk merintis berdirinya suatu Perguruan Tinggi milik NU.

Apabila generasi sekarang di NU maupun para tokoh UIJ dapat mencontoh semangat As Syaja’ah-nya tsb maka insya Allah berhasil. Selain itu beliau dapat meninggalkan 2 sifat yang buruk dimiliki oleh Pemimpin yaitu Al Jubnu yaitu kecil hati sehingga sering diilustrasikan posisinya selalu dibelakang saja sebagai makmum dan At Tahawwur yaitu memiliki keberanian tetapi tdk menggunakan perhitungan yang matang alias ngawur.

Bahkan bila diukur dari 5 syarat kepemimpinan yang ideal yaitu pinter, bener, kober, keker dan angker maka tidak berlebihan andaikan saya sampaikan bahwa Kyai Dzofir sudah memenuhi 5 syarat tsb.

1.        Pinter, dalam hal ini adalah memiliki ilmu yang cukup untuk mengatur dan bertanggung jawab terhadap suatu wilayah/bidang tertentu. Kyai Dzofir terkenal sebagai Ulama ‘alim Fiqih sehingga pada setiap pengambilan keputusan terhadap suatu masalah di Bahsul Masa’il NU selalu diserahkan pada beliau. Kealiman beliau diakui para ulama di NU pada berbagai musyawarah tingkat nasional sejak dulu adalah karena alim dan memiliki referensi kitab-kitab yang lengkap sebagaimana KH Wachab Chasbullah Jombang dan KH Zubeir Sarang.

2.       Bener, dalam hal ini adalah sikap jujur terhadap kebenaran dan bahkan belum tentu orang pinter juga bener. Kyai Dzofir justru berani bersikap yang kadang berbeda denga pendapat kyai lain karena membela kebenaran pendapat yang diyakininya.

3.        Kober,  maksudnya  adalah  punya  kesempatan   untuk berjuang. Kyai Dzofir aktiv sekali di NU dan bahkan sempat merintis sekolahan termasuk UIJ tanpa meninggalkan kewajiban mengajarnya di pesantren dan mencari nafkah untuk keluarganya.

4.       Keker, maksudnya adalah tidak mudah putus asa. Kyai Dzofir tidak pernah tampak putus asa dalam perjuangan

5.       Angker, maksudnya adalah memiliki kewibawaan untuk menegakkan aturan dan dipatuhi bawahan. Setiap perbedaan pendapat dalam bahsul masail, maka pengambilan keputusannya diserahkan pada beliau yang dengan bijaksana memutuskannya. Semua kyai tahu dalam pengambilan keputusan yang khilaf tsb, beliau menggunakan dalil/nash yang terkuat. Kebijaksanaan karena alimnya tsb menumbuhkan kewibawaan kyai.

Demikianlah kesan saya terhadap buku ini dengan harapan semoga para anak-cucu keturunan almaghfurlahu Simbah KH Dzofir dan para aktivis Pengurus NU disemua tingkatan serta para guru Ma’arif khususnya yang mengabdi pada sekolah rintisan almaghfurlahu dapat meniru semangat perjuangan beliau. Dan semoga kita memiliki niat ngalap barokah beliau untuk melestarikan perjuangan para Ulama Salaf Sholih demi mewujudkan cita-cita NU, yaitu lestarinya islam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, amin.

KH. Ahmad Qusyairi Alm.

23 Aug
Kiai Ahmad Qusyairi sebenarnya datang dari jauh. Beliau lahir di Lasem (Sumbergirang) Sabtu Pon 11 Sya’ban 1311 H atau 17 Pebruari 1894 M. Beliau adalah putra keempat dari 23 orang bersaudara. Ayahanda beliau, KH. Muhammad Shiddiq, dikaruniai 23 anak dari tiga orang istri: Nyai Maimunah (Masmunah?), Nyai Zaqiyah (Siti Maryam?) dan Nyai Siti Mardhiyah. Dengan Nyai Maimunah beliau dianugerahi tujuh anak, dengan Nyai Zaqiyah dikaruniai sembilan anak dan dengan Nyai Siti Mardhiyah tujuh anak. Kiai Achmad Qusyairi adalah putra beliau dari istri pertama.
Mengingat keterbatasan sumber, tak banyak yang bisa diungkap dari masa kecil Kiai Achmad. Tetapi yang pasti, sejak usia dini beliau sudah dikirim ke pesantren oleh ayahandanya. Beliau berpindah dari satu pondok ke pondok lainnya. Antara lain, pernah menimba ilmu di Langitan (Tuban), di Kajen (Pati) semasih diasuh Kiai Khozin, dan Semarang (Kiai Umar). Tetapi yang paling fenomenal adalah belajar beliau di Bangkalan, yakni di pondok Syaikhuna KH. Kholil.Kiai Kholil adalah ulama besar. Seorang waliyullah. Ada yang menyebut, beliau adalah wali kutub. Banyak santri beliau yang menjadi wali dan kiai besar. Kepada beliaulah ayahanda KH. Muhammad Shiddiq menimba ilmu dan amaliyah. Kemudian, setelah berkeluarga, beliau mengirimkan putra-putranya di sana, termasuk Kiai Achmad Qusyairi. Kelak, Kiai Achmad Qusyairi juga menitipkan putra sulung beliau, KH. Ridlwan, untuk mengais ilmu dari barokah dari sang wali kutub. 

Menurut KH. Hasan Abdillah Glenmore, Kiai Achmad Qusyairi nyantri kepada Kiai Kholil saat masih remaja (pascabaligh). Suatu kali, di bulan Ramadhan, Kiai Kholil menyuruh para santri supaya tidak tidur di malam hari. Katanya, “Ayo cari Lailatul Qadar”. Maksudnya, mereka disuruh beribadah malam supaya mendapat barokah dari malam yang sangat mulia itu.

Kiai Achmad Qusyairi termasuk di antara santri yang juga mencari Lailatul Qadar. Tetapi beliau salah sangka. Beliau mengira, Lailatul Qadar itu benda kongkret. Malam itu beliau mencarinya ke sana kemari namun hasilnya, tentu saja, nihil. Pulang ke pesantren beliau dilanda kecapekan, lantas tertidur pulas.

Pada dini hari, Kiai Kholil berkeliling pesantren. Tujuanya, untuk mengawasi para santri. Tiba-tiba beliau melihat seberkas cahaya pada tubuh kecil seorang santri. Beliau mendekati sosok kecil itu lantas mengikat ujung sarungnya (dibikin simpul mati), sebagai tanda. Paginya, seusai salat subuh, beliau membuat pengumuman. “Ayo, siapa yang di sarungnya ada tali simpul?” Tak ada santri yang menjawab. Si empunya simpul pun tak menjawab karena takut. Dia merasa bersalah karena tidur pulas tadi malam, padahal disuruh begadang. “Kalau tak ada yang mau mengaku, ya sudah!” kata Kiai Kholil dengan nada keras.

Dengan takut-takut seorang santri yang masih kecil mengacungkan jarinya. “Saya,” katanya. Ternyata dia santri bernama Achmad Qusyairi. Marahkah Kiai Kholil, yang dikenal berperangai keras itu? Tidak. Beliau justru berkata, “Mulai sekarang para santri tak usah mengaji padaku. Cukup kepada Achmad Qusyairi.” Kita tidak tahu persis (para sumber kita juga tidak tahu) apakah setelah kejadian itu beliau langsung pulang. Tetapi kami menduga beliau tidak langsung pulang. Beliau masih terus menimba ilmu hingga beberapa tahun.Menikah
Ketika Kiai Achmad masih kecil, ayahanda beliau berpindah ke Jember. Konon, kepindahan itu dikarenakan isyarat dari Rasulullah s.a.w. melalui mimpi. Mimpi itu mengisyaratkan supaya beliau berpindah ke timur untuk berdakwah. Jember pun menjadi pilihan karena itulah yang diperintahkan oleh KH. Kholil Bangkalan, guru beliau. “Kiai Shiddiq jembar,” katanya saat santrinya itu singgah dalam perjalanan ke timur. 

Kebetulan Jember saat itu merupakan daerah gersang dari sisi dakwah. Penduduknya masih banyak yang tidak beragama atau beragama Hindu-Budha. (baca: “Biografi Mbah Shiddiq” oleh Afton Ilman) Di kota ini ada seorang saudagar kaya bernama H. Alwi. Dia memiliki lima buah pabrik selep beras dan 35 rumah besar. Dia sangat akrab dengan Kiai Shiddiq. Bahkan, tanah tempat berdirinya pesantren serta rumah Kiai Shiddiq di Talangsari adalah hasil waqaf dari H. Alwi.

H. Alwi rupanya menyimpan kesan mendalam kepada pemuda Achmad Qusyairi, putra kiai yang dikaguminya itu. Begitu terkesannya sehingga dia menuruti apa yang dikatakan oleh pemuda itu. Misalnya, seperti dituturkan Kiai Hasan Abdillah, pemuda Achmad Qusyairi menyarankan kepada H. Alwi supaya mengeluarkan zakat mal untuk hartanya yang berlimpah itu. “Ini harus dizakati” katanya. “Baik” jawab si saudagar.

H. Alwi tidak hanya mengamini, tapi juga menyerahkan soal perhitungan zakatnya kepada Kiai Achmad, dan Kiai Achmad menjalankan tugas itu dengan baik setiap tahunnya.

Alhasil, keduanya sudah seperti anggota keluarga. Seperti bapak dan anak. Guna lebih melanggengkan hubungan keluarga tersebut, H. Alwi meminang pemuda Achmad Qusyairi untuk menjadi menantunya. Tetapi manusia hanya bisa berencana, dan Allah yang menentukan. Pemuda Achmad Qusyairi urung jadi menantu H. Alwi karena dijodohkan ayahandanya dengan putri KH. Yasin bin Rois Pasuruan. Bagaimana ceritanya?

Begini. Kiai Shiddiq, abah beliau, telah menjalin hubungan pertemanan dengan Habib Alwi bin Segaf As-Segaf Pasuruan melalui hubungan dagang. Keduanya memang sama-sama pedagang, tapi juga sama-sama wali. Dari Habib Alwi, Kiai Shiddiq mengenal Kiai Yasin bin Rois, seorang kiai besar pengasuh Pesantren Salafiyah yang terletak di desa Kebonsari, Pasuruan. Suatu kali, ketika Kiai Shiddiq bersama pemuda Achmad Qusyairi mengunjungi Habib Alwi, sang Habib menawarkan untuk menjodohkan putra Kiai Shiddiq itu dengan putri Kiai Yasin. Kiai Shiddiq menyatakan setuju. Kiai Yasin juga sepakat. Singkat cerita, pemuda Achmad Qusyairi dinikahkan dengan Fatmah binti Kiai Yasin bin Rais.

Akan halnya H. Alwi, tentu saja dia merasa kaget. Dia lalu menuntut kepada Kiai Achmad supaya mencarikan ganti beliau. Kiai Achmad menawarkan iparnya, Kiai Muhammad bin Yasin. H. Alwi merasa cocok, begitu pula di pihak pria. Maka dilangsungkanlah pernikahan antara Kiai Muhammad dan putri H. Alwi.

Malu
Kiai Achmad menikah dalam usia 19-20 tahun. Beliau merasa malu karena istri beliau, yang usianya lebih tua satu tahun, sudah hafal seluruh Al-Quran. Selama ini Kiai Achmad memang tidak pernah menghafalkan Al-Quran. Waktunya habis untuk menimba dan menimba ilmu.

Rasa malu tadi melecut beliau. Setahun setelah pernikahan, beliau berangkat ke kota suci Mekah guna menghafalkan Al-Quran di sana. Alhamdulillah, dalam waktu tiga bulan beliau berhasil menghafalkan 30 juz al-Quran. Pulang ke Indonesia, beberapa kali beliau kembali ke Mekah untuk beribadah haji dan menimba ilmu. Suatu kali, beliau sedang berada di Mekah. Tiba-tiba Perang Dunia I meletus. Beliau tidak bisa pulang. Apa boleh buat. Beliau pun bermukim di tanah suci itu selama lima tahun. Di sana beliau menjalin hubungan dengan Syekh. Lima tahun kemudian, sepulang dari sana, beliau menjadi badal (wakil atau agen) dari syekh tersebut.

Syekh adalah julukan bagi orang-orang yang bertindak sebagai host atau rumah bagi para jamaah haji. Mereka mengorganisasikan perjalanan ibadah haji para jamaah selama di tanah suci, sejak kedatangan hingga kepulangan mereka serta menyediakan akomodasi dan berbagai fasilitas yang diperlukan. Para syekh itu memiliki wakil atau agen di Indonesia, yang disebut Badal Syekh. Peran Badal Syekh ini mirip dengan yang dijalankan KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) sekarang: dari mencari jamaah, mendaftarkan mereka di Jakarta (segala dokumen haji kala itu harus diurus di kantor pusat di ibukota), dan mengurus keberangkatan mereka.

Lebih kurang, itulah pula yang dilakukan oleh Kiai Achmad. Para calon jamaah haji mendaftar kepada beliau, lalu beliau mengurus segala keperluan mereka dan mengantar mereka hingga ke kapal. Para calon jamaah haji itu, yang datang dari berbagai desa di kota dan kabupaten Pasuruan, berkumpul di Pesantren Salafiyah. Dari sana mereka naik dokar ke Pelabuhan Pasuruan. Karena kapal yang mengangkut mereka tidak bisa sandar di tepian, maka dari pelabuhan mereka diangkut dengan perahu kecil ke tengah laut.

Kiai Achmad biasanya ikut naik pula ke perahu kecil itu, guna memastikan tiada masalah pada para calon jamaah tersebut: entah itu soal tiket ataupun soal berbagai dokumen perjalanan. Terkadang, menurut Kiai Hasan Abdillah, beliau tidak hanya mengantar sampai ke kapal, tapi juga sampai ke Mekah. Pasalnya, kapten kapal yang terkesan oleh penampilan dan bahasa Belanda beliau, lalu mengajak beliau untuk ikut ke Jeddah, tanpa paspor.

Di samping menjadi Badal Syekh, beliau juga membuka usaha di bidang peralatan dokar. Tepatnya, beliau menjual suku cadang dan peralatan dokar. Adapun tokonya terletak di selatan Masjid Agung Pasuruan, dan diberi nama “Pasoeroeansche Dokar Handel”.

Beliau juga mengajar. Cukup banyak pengajian yang beliau gelar, baik di lingkungan pondok Pesantren Salafiyah maupun di luarnya. Entah itu di kota Pasuruan maupun di luar kota, seperti di desa Winongan (Kabupaten Pasuruan) dan kota Gresik.

Selama di Pasuruan beliau tinggal di lingkungan pondok pesantren Salafiyah. Tepatnya di sayap kiri rumah mertua beliau, Kiai Yasin. Adalah Kiai Yasin yang menyuruh beliau supaya membangun “sayap” tersebut, yang menempel di rumah sang mertua. Kemudian pada dasawarsa 1930-an, beliau membangun rumah di sebelah kanan rumah Kiai Yasin, yakni rumah yang kelak ditempati oleh menantu beliau, KH. Hamid.

Menurut KH. Hasan Abdillah, Kiai Achmad merupakan menantu yang disayang oleh Kiai Yasin. Maklum, antara keduanya ada kesamaan prinsip. Beliau tidak hanya disuruh membangun rumah yang menempel pada rumah Kiai Yasin, tapi juga dipercaya untuk mengajar di pondok. Peran sebagai pengajar dan pengurus pondok terus beliau pegang sepeninggal mertua beliau dan tongkat estafeta kepengasuhan pondok berpindah ke KH. Muhammad bin Yasin, putra Kiai Yasin.

Tetapi beliau tidak hanya mengajar di lingkungan pesantren. Beliau juga mengajar di tempat-tempat lain, seperti di Winongan (Kabupaten Pasuruan), Gresik, Madura dan lain-lain. Belakangan, seperti dituturkan KH. Abdur Rohman Ahmad, beliau tidak mengajar lagi di Gresik, tetapi orang-orang Gresik yang datang ke Pesantren Salafiyah Pasuruan untuk mengikuti pengajian beliau.

Dicalonkan Jadi Bupati
Sekitar tahun 1945-1946 beliau berpindah tempat tinggal: dari Pasuruan ke Kabupaten Jember. Tepatnya di Jatian, sebuah desa pedalaman, sekitar 15 km, sebelah timur kota Jember. Mengapa berhijrah?

Ada dua versi. Versi pertama diungkapkan oleh Kiai Hasan Abdillah. Katanya, Kiai Achmad berhijrah karena enggan dicalonkan menjadi bupati Pasuruan. Kala itu para kiai se-Pasuruan yang berkumpul di Masjid Agung Pasuruan sepakat menunjuk Kiai Achmad sebagai calon bupati.

Versi kedua diungkapkan oleh Ibu Nyai Hajjah Zainab, istri Kiai Achmad. Kepada al-faqir Nyai Zainab mengutip kata-kata Kiai Achmad bahwa beliau berpindah ke Jatian karena dikejar-kejar oleh Belanda. “Jatian itu kan desa pelosok, jadi cocok untuk tempat sembunyi,” ujar Nyai Zainab.

Tentang pencalonan Kiai Achmad sebagai bupati, ada pula kesaksian dari KH. Abdur Rahman Ahmad. “Aku juga mendengar waktu itu Abah dicalonkan di masjid karena Abah masih keturunan Mbah Surga Surgi,” ucapnya.

Kiai Abdur Rahman saat itu masih menjadi seorang pemuda tanggung berusia sekitar 14-15 tahun. Kalau Kiai Abdur Rahman yang masih muda mendengar kabar tersebut, berarti kabar itu sudah menjadi pembicaraan umum. Dan karena sudah menjadi konsumsi umum, sangat wajar bila ada tambahan bumbu-bumbu, seperti bumbu bahwa Kiai Achmad adalah keturunan Mbah Surga Surgi (trah ningrat yang menurunkan para bupati Pasuruan), padahal tidak.

Sayang, alfaqir tidak mendapatkan data tertulis mengenai pencalonan tadi. Pertama, karena pencalonan itu merupakan keputusan ulama, bukan sesuatu yang diputuskan instansi formal. Kami menduga, para ulama kala itu belum memiliki tradisi mengarsipkan hasil-hasil rapat mereka. Kedua, kondisi saat itu begitu kacau, sehingga kalaupun ada, dokumen itu bisa jadi hilang.

Toh sejarawan Pasuruan dari P3GI, yang juga penulis buku “Hari Jadi Kota Pasuruan”, Untung Sutjahjo, tidak menepis kemungkinan adanya rapat demikian. Berikut ini kutipan kata-katanya kepada alfaqir:

Adanya rapat untuk mengajukan seorang calon adipati sangat mungkin terjadi. Lebih-lebih, hubungan umaro-ulama sangat erat kala itu. Masjidnya adalah masjid Kiai Kanjeng. Masjid Agung adalah tempat membahas pula persoalan pemerintahan tertentu. Tetapi saya menduga, rapat itu diadakan secara sembunyi-sembunyi. Sebab, kondisi Pasuruan (dan di kota-kota lain) pada 1945 kacau sekali. Tidak aman. Belanda, pasca-terusirnya Jepang, sangat ketat mengawasi setiap gerakan atau perkumpulan. Karena itu, rapat mungkin diadakan sembunyi-sembunyi. Dan karena diadakan secara sembunyi-sembunyi, sangat boleh jadi dokumennya tidak ada. Pencalonan itu mungkin saja membuat marah Belanda. Jadi, sangat pantas kalau KH. Ahmad Qusyairi dicari oleh Belanda.” (Dalam catatan sejarah, Adipati R. Rumenggung Ario memerintah mulai 1936 hingga 1945.

Selanjutnya, tampuk kepemimpinan berpindah kepada Adipati R. Soedjono. Berarti pada 1945 memang terjadi suksesi kepemimpinan, entah karena desakan rakyat ataukah karena masa baktinya telah berakhir. Tetapi kalau kita perhatikan, masa bakti para adipati tidak sama. Kepemimpinan R. Tumenggun, misalnya, berlangsung selama 9 tahun, sedang adipati sebelumnya, R.A.A. Harsono, hanya memerintah selama tiga tahun.) Mengenai seberapa kacaunya Pasuruan (dan kota-kota lain) pada saat itu, hal itu bisa kita simak pada penuturan Soetjipto, seorang veteran perang yang tinggal di Jalan Mawar Pasuruan. Dia lahir tanggal 2 Pebruari 1925:

“Saya dulu sekolah di HIS Bangilan, dekat alun-alun kota Pasuruan. Lalu meneruskan di MILO Probolinggo. Karena di Pasuruan tidak ada MILO. Baru lima bulan sekolah, pecah perang.

Pada saat proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945, kita tidak tahu menahu. Baru setelah itu ada pemberitahuan. Lalu pemerintah membentuk tentara. Saya ikut. Saya menjadi kepala. Pada saat itu, khususnya ketika Belanda hendak mendarat di Surabaya, orang-orang tergerak untuk menjadi tentara. Terbentuklah pasukan-pasukan. Ada tentara reguler (TNI). Ada pula tentara nonreguler. Tentara kedua ini terbentuk begitu saja. Tidak teratur. Saya pernah mendengar (mungkin salah mungkin benar), KH. Ahmad Qusyairi memimpin pasukan. Namun, jangan bayangkan pasukan itu ada barisannya. Itu tidak teratur. Kalau ada serangan, pemimpin itulah yang mengkomando. Tetapi saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Wong saya golongannya lain. (Beliau golongan santri, Soetjipto bukan santri, sehingga bukan satu komunitas.) Orang-orang berangkat sendiri-sendiri ke Surabaya.

Tanpa komando, tanpa koordinasi. Dari Pasuruan, Jember, Probolinggo, Malang, Mojokerto dan lain-lain. Banyak dari mereka yang mati. Mereka adalah orang-orang yang berani mati. Dalam pasukan itu ada dua macam. Orang bodoh tapi berani nyerang dengan segala risiko. Ada yang pintar, tidak berani nyerang. Mereka memakai perhitungan. Pada saat Jepang datang, orang Belanda sudah habis di pasuruan. Gemente dikuasai. Pabrik-pabrik gula dikuasai semua oleh orang Jawa. Tapi mereka tidak tahu caranya memenej yang benar.

Pada pascaproklamasi, orang-orang berangkat ke Surabaya. Yakni untuk membendung Belanda yang hendak kembali. Terus terang, kita kalah terus. Kita terus mundur. Kita terdesak ke Sidoarjo. Lalu terdesak lagi ke Porong. Lalu ke Pandaan. Terjadi pertempuran hebat. Kita terus mundur, hingga Belanda berhasil masuk ke Malang. Kami pernah ke Purwodadi untuk menyerang Belanda, dan dengan tujuan memutus kabel telpon Malang-Surabaya. Tapi keburu diserang lewat udara. Dibombardir pesawat. Rupanya ada mata-mata.

Pada akhirnya Pasuruan juga dikuasai Belanda. Banyak Belanda di sini. Pasuruan dikuasai oleh KNIL. Sebenarnya juga banyak cecunguk-cecunguk Belanda. Mereka orang Jawa tapi hatinya Belanda. Mereka merasa enak di bawah Belanda.

Nah, kalau pada siang hari Pasuruan dikuasai KNIL, malam hari dikuasai pribumi. Tentara gerilya. Hampir semua orang bergerilya. Ada Belanda lewat diserang, dibunuh. Ada cecunguk Belanda, dibunuh. Pernah ada Pak Carik, hendak membeli kambing. Ketemu teman-teman, dia digeledah, ditemukan korek api dengan bendera merah-putih-hijau, langsung dia dibunuh. Ada Pak Lurah, punya kambing 12 ekor. Tiga ekor diambil, disembelih, kepalanya dikasihkan ke saya. Kondisinya memang kacau.

Nah, pada malam hari itu kita bergerilya. Kita serang kantor polisi. Sebab, banyak polisi yang hatinya Belanda, meski orang Jawa. Kita serang kantor-kantor lain. Bahkan juga kepala desa atau aparat lain yang dianggap antek Belanda. Terkadang kita membakar.

Kalau Kiai Ahmad Qusyairi dicalonkan menjadi bupati, itu bisa saja terjadi. Sebab, waktu itu kita memang hendak menguasai semua. Kita tidak bisa berperang. Senjata kita juga apa adanya. Ada pula senjata api, tapi tidak banyak. Kita bikin pasukan maling untuk mencuri senjata milik Belanda.”

Yang hendak dikatakan ialah, pada saat itu terjadi kekacauan yang luar biasa. Di samping itu, ketika orang-orang mengetahui adanya proklamasi kemerdekaan, dan mereka melihat orang-orang Jepang berkemas, bukan mustahil Pasuruan juga mengalami eforia sebagaimana yang meluas di berbagai daerah. Yakni eforia yang, sebagaimana kita saksikan pada saat munculnya fajar reformasi dulu, memicu suatu semangat untuk menjebol segala yang ada dan menggantinya dengan yang baru sama sekali. Seperti dilaporkan di sejumlah daerah (seperti di Tegal), orang-orang beramai-ramai mendongkel penguasa lama yang dianggap berbau penjajah (meski dia sendiri orang pribumi) dan menggantinya dengan orang baru. Pasuruan mungkin saja mengalami hal serupa.

Pertanyaannya, mengapa Kiai Achmad Qusyairi? Tampaknya beliau dipandang memiliki dua macam kompetensi sekaligus: ahli ilmu agama dan sekaligus mumpuni di bidang umum. Paling tidak, mereka menilainya dari kemampuan beliau berkomunikasi dengan bahasa Belanda dan Jepang. Beliau juga cukup fasih berbahasa Indonesia. Beliau sudah akrab dengan cara-cara yang cukup modern dipandang dari ukuran saat itu. Misalnya, berkomunikasi lisan dan tulis (lewat surat) dengan kapten kapal (yang semuanya orang Belanda tulen), para pejabat pemerintahan kolonial dan lain-lain. Beliau juga piawai menyusun untaian kata-kata indah dalam bentuk buku, risalah (karangan singkat) dan surat undangan — termasuk dalam bahasa Indonesia. Bahkan, di zaman “sedini” itu, beliau sudah memiliki kartu pos khusus dengan kop usaha atau toko peralatan dokar beliau. Tak kalah pentingnya ialah, beliau sudah biasa mengurus pemberangkatan haji, yang tidak hanya memerlukan keahlian khusus di bidang manajemen dan administrasi, tetapi juga juga mobilitas yang tinggi serta kemampuan lobi serta kedekatan dengan pejabat-pejabat pusat. Makanya, tidak heran jika beliau pernah diminta oleh Jepang untuk menjadi penghulu, tetapi beliau menolak. Bisa saja pencalonan itu membuat marah orang-orang Belanda. Itulah sebabnya, beliau termasuk orang yang dicari-cari oleh Belanda.

Dengan demikian, kedua faktor tadi sama benarnya untuk menjelaskan kepindahan beliau dari Pasuruan ke Jatian. Walaupun demikian, seperti dikatakan oleh Kiai Hasan Abdillah, beliau menolak menjadi bupati karena beliau adalah orang yang tidak mengagulkan jabatan, bukan karena takut Belanda.

Dan itu, kami kira, benar. Sebab, sebelumnya beliau telah menolak tawaran jabatan penghulu dari Jepang. Beliau juga menolak tawaran duduk di jajajaran pengurus NU karena merasa diri tidak pantas.

Hijrah Lagi
Selama tinggal di Jatian, beliau menggelar pengajian. Pengajian ini diikuti baik oleh orang-orang Jatian maupun dari luar. Di antara orang luar Jatian yang rajin mengikuti pengajian beliau ialah H. Abdul Azhim dan H. Sholeh, keduanya berasal dari Glenmore, Banyuwangi.

Mereka di Glenmore terbilang saudagar kaya. Waktu itu Glenmore adalah daerah yang gersang dari segi siraman rohani. Daerah yang keras karena di sana banyak preman. Kemaksiatan merajalela, termasuk yang biasa disebut sebagai Mo Limo (5-M): madat (mabuk-mabukan), madon (zina), main (judi), maling (mencuri), mateni (membunuh). Sementara itu, jumlah guru agamanya tidak banyak. Ada seorang guru agama di sana yang konon masih suka bermain sabung ayam.

Itulah, maka H. Abdul Azhim dan H. Sholeh berinisiatif untuk menawari Kiai Achmad pindah ke Glenmore. Ternyata gayung bersambut. Beliau mengiyakan tawaran tersebut. Satu setengah tahun setelah bermukim di Jatian, beliau melakukan hijrah lagi, yaitu ke Glenmore.

Mula-mula beliau tinggal di rumah H. Abdul Azhim yang terletak di sebelah barat pasar. Lalu beliau membeli rumah di timur pasar. Tak lama kemudian rumah itu dijual, dan hasil penjualannya dipakai membeli rumah di Kalibaru.

Beliau sendiri menempati rumah pemberian H. Mustahal, yang terletak sekitar 200 meter sebelah selatan rumah yang dijual tadi. Rumah ini menjadi tempat tinggal permanen beliau hingga akhir hayat beliau.

Akan halnya keberadaan beliau di Glenmore, sungguh tak mudah. Setelah melewati masa “bulan madu”, mulailah beliau menapak jalan menanjak. Beliau difitnah. Seperti dituturkan oleh Abdusy Syakur (70 tahun), warga Magelenan, Glenmore, suatu kali Pak Syarqowi datang, mengatakan bahwa beliau jadi omongan orang. “Sudah biar saja, orang kalau dibicarakan itu, dosanya habis,” kata beliau. Lalu beliau masuk ke dalam rumah, dan kembali membawa uang. “Ini berikan pada orang-orang yang membicarakan aku. Terima kasih, karena telah menghabiskan dosaku.

Memang beliau menjadi bahan omongan orang banyak. Dan itu ada provokatornya, kata Kiai Abdillah. Provokator ini menghasut orang. “Jangan ke Kiai Achmad Qusyairi,” katanya di hadapan orang banyak dalam acara tahlilan. Fitnah itu begitu menghebat hingga Kiai Hasan, yang masih muda kala itu, tidak tahan. Dia sudah mau marah. Dia melaporkan hal itu pada Kiai Hamid, kakak iparnya. “Anu Lah, wong Glenmore iku gak nyucuk karo ilmune Abah (Orang-orang Glenmore tidak dapat menjangkau ilmu KH. Achmad),” kata Kiai Hamid kepada Kiai Abdillah. Beliau juga menyarankan supaya Kiai Achmad kembali ke Pasuruan.

Kiai Abdillah juga membatin, “Biar Abah ke Pasuruan saja, orang-orang aku yang hadapi.” Tetapi beliau bersikukup tetap tinggal di Glenmore. “Biar saja aku difitnah. Aku lebih suka dicela orang daripada dipuji,” ujar beliau.

Di tengah terpaan badai yang hebat itu, beliau tetap bertahan. Beliau mengemong masyarakat. Sedikit demi sedikit beliau memperbaiki keadaan. Beliau mendirikan musalla di utara rumah beliau (1948). Di musalla ini dan di rumah beliau, beliau menggelar pengajian. Para ustaz dan kiai di Glenmore mengaji pada beliau. Orang-orang awam juga. Ada yang dari Glenmore, ada pula dari luar Glenmore.

Tetapi, tentu saja, tidak hanya lewat pengajian beliau mengemong dan mendidik masyarakat, tapi juga lewat keteladanan dan nasihat-nasihat. Terkadang beliau marah. Seperti marah beliau kepada Cak Arik kala pemuda ini masih bermain layang-layang padahal waktu salat Jumat tinggal beberapa menit lagi.

Glenmore pun, pelan tapi pasti, beringsut. Citranya berubah. Dari desa Mo Limo, desa yang tidak aman dan penuh kerawanan, menjadi desa santri yang damai dan aman. Orang-orang yang dulunya dikenal sebagai perampok, pembunuh, ahli menggoda istri orang – pendeknya para jagoan dan preman – berubah penampilan menjadi santri setia beliau yang alim.

Dan dengan sendirinya pula, fitnah yang pernah merebak hebat, lambat laun mereda. Omongan-omongan miring mengenai beliau menghilang, dan orang-orang yang dulunya menjadi pemfitnah dan penghasut berubah menjadi para santri yang taat beragama dan bersikap takzhim pada beliau. Ternyata, segala fitnah dan hasutan itu dikarenakan kesalah-pahaman belaka. Sekarang, orang telah mengerti. Berkat kesabaran dan konsistensi beliau dalam menjaga syariat, lambat laun mereka menjadi semakin tahu. Coba, seandainya beliau mundur sebelum berjuang, mungkin Glenmore tidak banyak berubah. Jadi, alangkah besarnya manfaat kesabaran dalam perjuangan. Dan benarlah firman Allah:

Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan berkata, “Kami beriman, sedang mereka tidak diuji?”

Wafat
Dalam usia senja beliau, sekitar tahun 1970, berkali-kali beliau mengatakan ingin wafat di tanah suci Mekah. Hal itu beliau ucapkan dalam banyak kesempatan di hadapan orang banyak. Kebetulan ketika hendak berangkat menunaikan ibadah haji pada 1971 beliau dilanda sakit.

Maka dari itulah, ketika beliau berangkat ke tanah suci dengan menumpang kapal laut, banyak orang yang waswas. Walaupun beliau sempat dinyatakan sehat oleh dokter pada hari-hari menjelang keberangkatan, sesampai di Mekah beliau menderita sakit keras. Begitu parahnya sehingga beliau hanya tergolek di tempat tidur. Ibu Nyai Zainab, yang menyertai beliau, dengan teladen meladeni segala kebutuhan beliau. Termasuk, maaf, menceboki beliau karena beliau benar-benar tidak bisa bangun dari pembaringan. Tak heran jika sempat terbetik perasaan khawatir di hati Ibu Nyai tersebut, “Bagaimana kalau aku ditinggal sendirian di sini?” Betapa beratnya bagi Bu Nyai yang tak pernah keluar dari rumah itu berada dan pulang sendirian dari negeri orang.

Alhamdulillah, beberapa hari menjelang pulang, Kiai Achmad berangsur sehat. Allah Maha berkehendak. Beliau pun pulang ke tanah air menyertai istri beliau dalam keadaan sehat wal afiat. Para anggota keluarga, handai tolan dan para santri yang sempat khawatir merasa lega.

Tetapi beliau tidak lama menyertai beliau. Pada tahun berikutnya di bulan Syawal, saat berada di Gresik, beliau jatuh di kamar mandi. Ternyata kejatuhan itu membawa pengaruh yang besar pada kesehatan beliau. Beliau langsung jatuh sakit dan tidak bisa bangun dari pembaringan.

Beliau kemudian dibawa ke Pasuruan, dan menempati rumah Kiai Hamid, yakni rumah yang dulu beliau tinggali. Seminggu berada di sana, beliau dilanda koma. Dan pada tanggal 22 Syawal 1392 H. bertepatan dengan 28 November 1972 M beliau menghembuskan nafas terakhir dalam usia 81 tahun, meninggalkan 15 putra dan putrid, sejumlah cucu dan dua orang istri: Ibu Nyai Hajjah Halimah dan Ibu Nyai Hajjah Zainab.

Dengan diantar ribuan pelayat, beliau dikebumikan di kompleks pemakaman di belakang Masjid Agung Al-Anwar Pasuruan.

Beliau pun menjadi yang terakhir dari tiga serangkai yang wafat dalam waktu tiga bulan berturut-turut. Yang pertama adalah KH. Achmad Sahal Pasuruan pada bulan Sya’ban, lalu KH. Ma’shum Lasem pada bulan Ramadhan, dan beliau sendiri wafat pada bulan Syawal. (Hamid Ahmad, putra terakhir dari KH. Achmad Qusyairi 

Download Buku Silsilah

22 Aug

Silsilah Bani KH Muhammad Shiddiq

Silsilah Perkeluarga  :

I. KH Mansur

II Nyai Hj Roichanah

III. KH. ACHMAD QUSYAIRI Tambahan Data Fasilitas Edit Bany Fatimah Binti A Qusyairi

IV. KH. MACHMUD

V. KH. MACHFUDZ SHIDDIQ

VI. KH. ABDUL HALIM

VII. NYAI HJ. ZAINAB SHIDDIQ

VIII. K.H. ABDULLAH SHIDDIQ

VIII. NYAI HAJJAH ZULAIKHO

IX. K.H. ACHMAD SHIDDIQ

Profil Almarhum K.H. MUHAMMAD SHIDDIQ

22 Aug

KH Muhammad Shiddiq dan lebih dikenal dengan nama Kyai Shiddiq atau Mbah Shiddiq, adalah seorang muballigh/da’i yang awal berjasa menyebarkan islam di kabupaten Jember yang dilanjutkan oleh para kader-kader muballigh/da’i-nya sehingga kabupaten Jember menjadi daerah islami. Terbukti sekarang banyak kyai/ulama, sejumlah + 3000 masjid, sejumlah + 750 pesantren dan sejumlah + 1000 lembaga pendidikan Islam lainnya di kabupaten Jember. Kyai Shiddiq meninggal di Jember pada hari Ahad Paing jam 17.45 tanggal 2 Romadlon 1353 H./9 Desember 1934 M. dalam usia 80 tahun dan dimakamkan di Turbah Jl Gajahmada Condro Jember.

Sebagai Kyai terkenal dapat diketahui dari makamnya di Turbah Kampung Condro atau jalan Gajahmada dikota Jember yang banyak diziarahi ummat Islam. Bahkan Para Peziarah yang datang untuk berzikir membaca tahlil ada yang berdatangan dari Jawa Barat pada hampir setiap malam Jumat dengan berombongan kendaraan bus. Selain itu, jasa beliau sbg Muballigh awal di Jember yang berjasa mendirikan pesantren awal dan 13 masjid  sebagai langkah awal penyebaran islam di Jember.

Setelah pengembaraan mencari ilmunya, Kyai Shiddiq mendirikan pesantren sebagai pengabdian ilmunya di masyarakat, mula-mula di Lasem. Kemudian sekitar tahun 1884, beliau dalam usia 30 tahun hijrah ke Jember dan mendirikan pesantren dikampung Gebang Jember. Kemudian pada tahun 1918, beliau berusia 64 tahun pindah kekampung Talangsari Jember dan mendirikan pesantren yang kemudian sekarang dikenal sebagai Pesantren Ash-Shiddiqi Putra (PPI ASHTRA) di jalan KH Shiddiq 201 Jember yang diasuh oleh Gus H Firjaun bin KH Achmad Shiddiq. Pesantren di Gebang kemudian dilanjutkan oleh putranya (KH Machmud) dan kemudian dipindah ke kampung Tegal Boto yang sekarang dikenal sebagai Pesantren Al-Jauhar yang diasuh oleh (alm) Prof. DR. KH Sahilun A. Nasir M.PdI.

Melalui pesantren inilah yang kemudian menjadi cikal bakal  berkembangnya islam di Jember melalui strategi pengkaderan santri dan mendirikan masjid-masjid sebanyak +15 masjid yang tersebar diberbagai wilayah Jember, termasuk Masjid Jamik Al-Baitul Amin dijantung kota Jember. Terbukti, para santrinya tersebut yang kemudian menjadi kyai/muballigh/da’i yang menyebar-luaskan pengajaran islam dipelosok Jember melalui masjid-masjid yang telah dirintis beliau tersebut.

Beliau lahir tahun 1453 H (1854 M) di pedukuhan Punjulsari Desa Waru Gunung Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Lokasi pedukuhan Punjulsari perkebunan dan hutan sehingga beliau adalah Arek Ndeso. Menurut Garis nasab yang dicatat KH. Achmad Qusyairi bin KH Muhammad Shiddiq dan catatan KH. Abdul Halim bin KH Muhammad Shiddiq, menyebutkan Mbah Shiddiq keturunan kyai-kyai agung yang sambung nasab kepada Rosulullah Muhammad SAW.

Dan garis ayah, KH. Muhammad Shiddiq bin KH Abdullah (makam di Laut Merah) bin KH. Sholeh (makam di Lasem) bin KH. Asy’ari bin KH. Azro’i bin KH Yusuf (makam di Pulandak Lasem) bin Sayyid Abdurrachman Al-Basyaiban (makam di Lasem) yang berjuluk Mbah Sambu alias Raden Muhammad Syihabuddin Sambu Digdodiningrat.

Sedangkan dari garis ibu, KH. Muhammad Shiddiq binti Nyai Hj. Aminah (di makamkan di Jepara) bin Abdul Karim bin Penghulu Purwodadi bin Demang Sahid Imam (Kasruhan), bin Husein (Tuyuan), bin Waliyulloh Achmad (Lasem) bin Sayyid KH. Achmad Sholeh (Pati Raden KH. Abdul Adzim (Penghulu Lasem) bin Sayyid Abdurrachman Al-Basyaiban.

Mbah Shiddiq Tokoh Ulama Sejati

22 Aug

Jember, NU Online
KH Muhammad Shiddiq adalah sosok ulama yang ikhlas dan berilmu. Keteladanannya patut menjadi contoh bagi umat Islam. Dengan keikhlasan yang tinggi, Mbah Shiddiq benar-benar muncul sebagai ulama yang patut dikenang sepanjang zaman.

Hal tersebut dikemukakan Habib Taufiq dari Pasuruan saat memberikan taushiyah dalam acara Haul Mbah Shiddiq yang ke-78 di Pondok Pesantren As-Shiddiqi Putera, Jember, Ahad (1/8). Menurutnya, Mbah Shiddiq yang menjadi sesepuh sejumlah tokoh nasional itu, merupakan tipe ulama langka jika dibandingkan dengan zaman sekarang. “Sekarang sulit mencari ulama seperti beliau,” tukasnya.

Habib Taufiq menambahkan, dari sisi kuantitas, sekarang banyak ulama yang cukup menonjol. Tapi dari segi kualitas justru ulama berkurang. Kualitas yang dimaksud adalah ilmu dan keikhlasannya. Sebagai pewaris Nabi, katanya, seharusnya ulama banar-benar mewarisi prillaku Nabi. “Tapi yang ada sekarang, ulama  malah  banyak kategorinya. Tapi yang berkategori sama dengan Mbah Shiddiq, sedikit,” tukasnya.

Penyelenggaraan haul itu sendiri cukup sederhana. Tidak banyak masyarakat yang diundang, selain  hanya keturuan Bani Shiddiq. Ikut hadir dan memberikan sambutan adalah KH Hasan Abdillah dari Banyuwangi selaku saudara tertua dalam lingkaran Bani Shiddiq. (ary)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.