Nyai Hj. Zainab Shiddiq. Ibu Yang Melahirkan Banyak Tokoh

23 Aug

A. KEHIDUPAN NYAI ZAENAB

Nyai Hj. Zainab Shiddiq lahir di Jember pada hari Ahad 22 Romadlan 1333 (1915). Zainab adalah putri Mbah Shiddiq yang keempat dari ibu Nyai Maryam. Beliau sudah menjadi piatu sejak kecil karena di tinggal wafat Nyai Maryam saat pulang menunaikan haji.

Zainab di didik mengenal agama, sholat, dan syariat agama yang langsung oleh abah dan uminnya. Abah sendiri yang mengajar sistem kitab kuning pada Zainab di rumah ibu Nyai Maryam. Rumah (ndalem) Mbah Shiddiq ada dua yaitu Ndalem Utara dimana beliau tinggal bersama dengan Nyai Maryam. Di rumah inilah putra-putri Mbah Shiddiq dan Nyai Maryam tinggal. Mereka antara lain; Mahfudz Halim, Zainab, Abdulloh dan Achmad

Sedangkan di Ndalem Selatan, tempat tinggal beliau dengan Nyai Mardliyah dan putrinya yang semata mayang yaitu Zulaikho dan tiga orang anak tirinya yaitu putra-putri Nyai Mardliyah dengan H. Masyhuri (Sholeh, Khotijah dan Zulaikhoh).

Pada tahun 1928, Nyai Maryam mengajar mengaji santri putri. Para santri putri tersebut di tempatkan di Musholla darurat yang bersebelahan dengan Ndalem Utara, Murid-Muridnya antara. lain Cik Alimah (Ny. Hj. Abdullah). Saat itu pengajaran lebih di tempakan pada amaliahnya atau ilmu praktek beribadah. Pernah seorang santriwati bertanya “Mengapa berdo’a kok pakai tangan menengadah terbuka”. ”Oh…, itu biar tidak bocor do’anya “, jawab Nyai Maryam berkelakar tetapi filosofis. Zainab dinikahkan oleh Abanya dengan KH. Muhammad bin KH. Hasyim dari Mojosari pada tanggal 17 Sva’ban 1351 H (16 Otober 1932).

Sebelum menikah dengan Nyai Zainab, KH. Muhammad bin Hasyim sudah menikah dengan Nyai Muniroh binti Ismail, Lasem. Mereka dikaruniai 5 orang putra yaitu: Hafsin, Maulah, Muhammad, Roqib (wafat kecil) dan Zahroh (wafat kecil), dan akhimya Nyai Muniroh wafat meninggalkan 3 putra yang masih kecil-kecil.

KH. Muhammad adalah tokoh ulama yang aktif berjuang di NU. Pengabdiannya yang Lulus ikhlas dan memiliki kealiman agama sehingga menghantarkannya dipercaya sebagai salah seorang Awan HBNO pada periode Ro’is Akbar Hadratus Syech Hasyim Asy’ari dan ketua Tanfidziah HBNO-nya adalah KH. Machfudz Shiddik. Kyai Machfudz akrab sekali dengan Kyai Muhammad la tertarik pada Kyai Muhammad karena kecerdasan, ulet dan guyonannya. Kyai Muhammad berkepribadian humoris sehingga banyak orang suka padanya.

Profesi Kyai Muhammad adalah Pokrol (Pengacara hukum) di samping, tugas rutinnya selaku guru ngaji. Sebagai Pokrol, Kyai Muhammad banyak membela orang-orang yang tertindas dalam hukum. Termasuk Kyai Wachab Chasbullah-pun sering dibela

dalam pengadilan dulu. Ketika KH. Machfudz dan KH. Hasyim Asyari ditahan Jepang, Pokrol Kyai Muhammad-lah yang getol melakukan pembelaan hukum. Sampai dibebaskannya 2 tokoh teras NU itu, berkat keuletan diplomasi hukum Kyai Muhammad
Konon, Kyai Muhammad berpenampilan sangat wibawa. Tentu saja kekyaiannya itulah yang menambah wibawa penampilannya. Setiap orang yang berhadapan dengannya, pasti keder. Mungkin hidzib dan amalan wiridnya yang ampuh sehingga berpenampilan wibawa.

“Kang, aku golekno bojo…, Mosok Sampeyan gak saaken nang aku/Kang, aku carikan istri…, Masa Sampeyan tidak kasihan padaku “, kata Kyai Muhammad suatu hari pada Kyai Machfudz. Hanya pada kang Kyai Machfudz, la. berani mengutarakan isi hatinya yang rahasia itu. “Ono. Sampeyan oleh adikku wahe/Ada, Sampeyan dapat adikku saja “, jawab Kyai Machfudz disela-sela suasana santai dalam. kongres.

Begitu selesai acara kongres mereka, berdua ke Jember. Lobbi kecil ini ternyata. bermanfaat. Jadilah Kyai Muhammad menikah dengan Nyai Zainab. Setelah 3 bulan pemikahannya barulah Kyai Muhammad memboyong 3 putranya yang sudah piatu: Hafsin, Maulah dan Muhammad.

Kepribadian Kyai Muhammad yang humoris menjadikan sangat dekat dengan saudara-saudar ipar dan tetangganya. Hobinya makan kue pisang goreng bersama-sama saudara. iparnya & Hanya untuk makan kue kesukaannya itu, ia panggil semua adik ipamya. (Nyai Zulaikho, Solikhah, Abdullah dan Achmad. Shiddiq). Bahkan sepulang dari tabligh, Kyai Muhammad sudah teriak-teriak (di pintu gerbang pondok) memanggil saudaranya itu, sambil menenteng oleh-oleh.

Kyai Muhammad juga mengajar mengaji membantu mertuanya. Dan saat itu juga, la menjabat sebagai kepala penghulu di Jember dan Ta’mir Masjid Jamik bersama Kyai Halim. Mengajar di rumahnya, sambil duduk di atas safrah (Amben/dipan kayu besar dan panjang). Yang banyak diajarkan adalah Fiqih dan Akhlaq (tasawwuf). Sering beliau bercerita tentang kisah Nabi-nabi dalam menjelaskan pelajarannya. Selingan cerita itulah yang banyak membekas pada santrinya.

Sepeninggal Nyai Maryam, Nyai Zainab meneruskan pengajaran kitab kuning pada para santriwati. Kepribadiannya yang sabar dan telaten itulah, lambat laun jumlah santriwatinya bertambah banyak Dan Musholla kecil warisan Nyai Maryam itu sudah tidak muat menampung santriwati yang berdatangan dari desa-desa dan para tetangganya.
Selanjutnya, dibangunlah gedung musholla dan empat kamar santriwati di sebelah barat rumahnya(lokasi sekarang). Bahkan pada peresmian musholla tersebut dihadirijuga oleh KH. Achmad Dahlan (Menteri Agama). Sejak itu diumumkan nama Pesantren itu “Pesantren Putri Alawiyah”. Nama Alawiyah adalah untuk mengenangiasa Haji Alwi yang mewaqofkan tanah itu

Gagasan besar untuk menjadikan Pesantren Alawiyah sebagai kawah Candra di muka muslimah di Jember menjadi angan-angan suami istri ini. Tapi rupanya Alloh Swt. masih mengujinya dengan wafatnya Kyai Muhammad pada tahun 1952. Kyai Muhammad wafat malam Selasa 10 Romadion 13…. H (tahun 1952 M). Beliau wafat dengan meninggalkan putra-putrinya yang masih kecil (yatim). Anak sulungnya (Hizbullah) masih berumur 12 tahun dan sekolah di SMI (Sekolah Menengah. Islam) Jember. Kyai Muhammad dimakamkan berkumpul dengan abah-mertuanya dan saudara-saudaranya di Turban  Condro

Pernikahan Kyai Muhammad dengan Nyai Zainab dikaruniai sembilan putra-putri yaitu:

1. Hizbullah (H. Hizbullah Huda), beliau adalah aktivis NU dan PPP. Ialah ketua Ansor Wilayah Jawa Timur tahun 1965 – 1970 yang berani menggerakkan Banser (Barisan Serba Guna) Ansor menandingi dan membasmi PKI di Jatim. la juga yang mendirikan PMR (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), bersama 13 orang deklamator lainnya antara lain: Chalid Mawardi (Jakarta), Said Budairi (Jakarta), Shobih Ubaid (Jakarta), Ma’mun Sukri BA. (Bandung), Hilman (Bandung), H. Ismail Makki (Yogja), Munsif Nahrowi (Yogja), Nuril Huda Su’ adi HA. (Solo), Laili Mansur (Solo), Abdul Wahab Jailani (Semarang), M. Kholid Marbuko (Malang) dan Ahmad Husein (Ujung Pandang). Pengabdiannya yang lama di NU dan PPP mengantarkannya sebagai:
a. Wakil Ketua DPR – GR Jatim (1968 – 1971)
b. DPRD-Jatim /MPR-RI (1971-1977)
c. DPR-RI/MPR-RI (1977-1987)

Gus Hiz ini wafat Hari Jum’at 28 April 1995 1995 dan di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

2. Faruq (KH. Faruq Muhammad), adalah muballigh terkenal di Jember dan pendiri Pesantren Riyadlus Sholihin Jember. Kyai Faruq mengabdi sebagai kepala Depag Jember, selanjutnya wafat tahun 1988 di makamkan di komplek pesantren Riyadush Sholihin Jember.

3. Fatchiyah (Dra. Nyai Hj. Fatchiyah), adalah dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga Yogjakarta. Sekarang beliau sebagai ketua Muslimat NU Wilayah Yogja. Beliaulah salah seorang pendiri IPPNU (Ikatan Pelajar Putri NU).

4. Faridah (wafat kecil)

5. Nur Ajibah Indah (Dra. Nyai Hj. Endah Nizar, Lc.), adalah istri Alm. Drs. H. A. Nizar Hasyim (Dekan Fak Tarbiyah LAIN Jember). Profesi beliau sebagai dosen di IAIN Sunan Ampel dan UNSURI Surabaya. Nyai Endah aktif sebagai Wakil Ketua Muslimat NU Jawa Timur sampai sekarang.

6. Faichotul Himmah (Dra. Nyai. Hj. Elok Fajqotul Himmah), sekarang, mengasuh Pesantren Zainab Shiddiq. Beliau termasuk muballighah dan sekretaris Muslimat NU Jember. Duetnya bersama Dra. Nyai Hj. Nihayah Achmad Shiddiq dalam Muslimat telah berhasil mendirikan Rumah Bersalin Islam Muna Parahita di Jember.

7. Nadzir (Drs. KH. Nadzir Muhammad MA), adalah mantan ketua dewan Mahasiswa IAIN dan aktivis PMII Yogya. Kyai Nadzir meneruskan karir politiknya di PPP Jatim dan pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PPP. Kemampuannya sebagai, intelektual dan politisi menjadikannya disegani oleh kawan dan lawan.Sekarang Beliau Pengasuh Pesantren Darus Sholah meneruskan perjuangan Alm. KH Yusuf Muhammad

8. Nur (wafat kecil)

Muhammad Yusuf Samsul Hidayah (Drs. KH. Yusuf Muhammad LML.), adalah pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Darus Sholah Jember. Mantan Pengurus Pusat IPNU dan PB PMII inilah yang menggalang Kyai-kyai dalam wadah LPAI (Lembaga Pembinaan AkhIaq Islamiyah) di Jember., beliau dipercaya sebagai Wakil Ketua Pusat Robithah Ma’ahid Islamiyah (RMI). Kyai Yusuf inilah yang menurut anggapan banyak orang mewarisi kharisma Kyai Achmad Shiddiq sebagai figur pemikir dan Muballigh kondang. beliau pernah menjabat sebagai anggota DPR-RI dari Fraksi PKB. Beliau meninggal dalam musibah kecelakaan pesawat Lion Air di Solo, bersama 26 korban yang lain. Kecelakaan itu terjadi sore hari di Bandara Adi Sumarmo, saat pesawat tergelincir sesaat sebelum berhasil mendarat di bandara yang berjarak beberapa kilometer dari lokasi Muktamar NU di Solo. Namun demikian, jenazah Gus Yus baru dapat dipastikan keberadaannya pukul 22.30 WIB.

Saat itu, beliau hendak hadir kembali dalam Muktamar NU ke 31. Sebelumnya, yakni pada waktu pembukaan Muktamar NU yang diselenggarakan di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah, Gus Yus sudah hadir, malah bersama istri, Siti Rosyidah dan putranya, Ahmad Syarif Cornel Aulawi. Hanya, beliau harus ke Jakarta hari itu lantaran melaksanakan tugas sebagai Ketua Komisi VIII DPR RI, untuk rapat bersama Mensos Bachtiar Chamsah. Sore hari itu, usai rapat dengan Mensos, (30/ 11), Gus Yus bermaksud ke Solo menghadiri sejumlah perternuan Muktamar. Rencananya, esok pagi (1/12), beliau berencana ke Jakarta kembali, untuk menghadiri rapat dengan Menteri Agama, Maftuh Basuni. Beliau di makamkan di kompleks Darus Sholah Tegal Besar Jember.

Kesulitan demi kesubtan dalam hidup menguji Nyai Zainab.Sepeninggal suami, membawa resiko bagi Nyai Zainab berperan anaknva yang menuntut untuk mencan’n’zqi sendiri. Disamping itu, la dituntut kesabarannya sebagai ibu rumah-tangga, yang mendidik anak anaknya. Bahkan Nyai Zainab mendidik para santri dan masyarakat. Alloh swt. jualah yang mengatur taqdir kehidupannya.

Mulailah Nyai Zainab berdagang kecil-kecilan. Setelah sholat subuh dan mengajar santri, Nyai membawa dagangannya keliling daerah-daerah dengan naik becak. Sore hari menjelang Ashar, barulah beliau datang. Begitulah dilakukan setiap hari.

Nyai Zainab membuat peraturan pada anak-anaknya Semua anak-anaknya wajib membantu usaha dagang ibunya Teknisnya diatur bergiliran. Senin adalah piketnya hizbullah, Selasa tugas si Faruq. Begitulah seterusnya jadwal piket membantu dagangan ibunya dilakukan bergiliran pada semua putranya. Dan bila ada yang melanggar (tidak piket) maka ganjaran cetolan (cubit) paha sudah disiapkan.

“Kowe yen gak kerja, gak iso sekolah! ” (Kamu kalau tidak kerja, tidak akan bisa bersekolah) begitulah nasihat Nyai pada anak-anaknya.

Pembagian tugas kerja diterapkan. Hizbullah dan Faruq membuat strimin kudung. Seringkali keduanya balapan “siapa yang paling cepat dan banyak hasilnya”. Faruq yang lugu itu membuat dari pagi hingga sore (ngoyo) sedang Hiz hanya kerja santai-santai. Tapi tanpa setahu Faruq, Hizbullah ngebut kerjanya pada malam hari hingga subuh.

Ternyata watak Faruq yang lugu itu menjadikannya sebagai ciri kekyai-annya Dan Hizbullah yang banyak akal dan ulet itu muncul sebagai politisi kawakan. Sebagai pedagang keliling, arealnya luas sekali. Pernah si bungsu Yusuf diperintah ibunya untuk (bersepeda) nagih uang dagangan ke Lengkong – Mumbulsari. Nadzir sering ditugaskan ke Tanggul, sehingga perlu naik kareta api.

Ternyata, Nyai Zainab tidak hanya sekedar dagang saja. Sambil berdagang dimanfaatkannya pula untuk berdakwah/tabligh. Banyak Majlis Ta’lim (kelompok pengajian) dan ranting-ranting Muslimat NU yang berdiri atas prakarsanya. Sambil berdagang, la kumpulkan beberapa orang dan diisi pengajian. Saat itu, beliaupun menjabat sebagai wakil ketua Muslimat NU.

Nyai Zainab-pun terlibat aktif dalam pendirian “Sekolah Muallimat” tahun 1953. Bersama Kyai Dzofir, KH. Ridwan, Imam Sukarsan, Pak Cholil Subari, KH. Shodiq Machmud di dirikan Madrasah yang khusus untuk mencetak calon guru-guru agama putri. Pada waktu yang bersamaan Mereka pun merintis berdirinya PGA (Pendidikan Guru Agama) di Gebang. Pada awalnya klas-klas dalam Mu’allimat ditempatkan di Ndalem Nyai Zainab dan rumah Kyai Makmun (sekarang rumah KH. Umar Ismail). Sekarang Madrasah Mu’ allimat itu diganti nama “Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Masyitoh”.

Selama mengajar santri, Nyai Zainab menekankan pada Fasholatan, Al-Qur’an dan Fiqih. Hanya untuk tartil Fatihah, seorang santri lulus dalam waktu 2 minggu. “Fatihah itu rukunnya sholat. Kalau tidak tartil bacaannya maka tidak sah sholatnya”, kata Nyai Zainab menerangkan tentang pentingnya bacaan Al Fatihah.

B. RESEP MENDIDIK ANAK
Selain dikenal sabar, Nyai Zainab yang janda itu mempunyai kemauan keras mendidik anak anaknya setinggi mungkin. Dengan keras la pentingkan pendidikan anak-anaknya walaupun rizqIi”untuk makan sulit”. Tapi. Allahlah yang menolong hambanya. Semua putra-putrinya bisa menyelesaikan pendidikan formalnya secara memadai:
1. Hizbullah sampai ke Fakultas Hukum Unair Surabaya tingkat Akhir. la tak mnyelesaikan skripsinya karena sibuknya dalam pengabdian politik NU-nya.
2. Faruq bisa menyelesaikan sarjana mudanya, di Fakultas Kulliyatul Qodlo’ UNNU (Universitas NU) di Solo.
3. Fatchiyah dan Elok bisa menyelesaikan kuliahnya di IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
4. Endah bisa selesaikan Lc-nva di Al-Azhar Mesir
5. Nadhir setelah, menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai MA-nya dari Universitas Cartoum Sudan Afrika.
6. Yusuf setelah menyelesaikan Drs-nya di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta masih mampu mencapai mencapai LML-nya di Universitas Madinah – Arab Saudi.

Orang banyak menyoroti keberanian Nyai mengirim Endah ke Mesir. Saat itu hanya Endah satu-satunya wanita di Jawa Timur yang, kuliah di Mesir. “Awas Iho…, Apa Bu Nyai tidak khawatir anaknya jadi penari perut di Mesir”, diantara kritik banyak orang. Namur Nyai Zainab yakin anaknya tak akan membuat aib keluarga. Kebiasaannya (Istiqomahnya) tirakat tidak tidur malam hari, puasa, khatam Alqur’an dalam seminggu, baca dalail merupakan benteng, dan sekaligus motivasi kuat yang mendorong kesuksesan anak-anaknya.

Pada suatu. ketika, Fatonah (santrinya) bertanya sambil mijiti Nyai Zainab: “Nyai, dek remmah reseppah bisa ngagungi putrah sih deddih kabbih/Nyai, bagaimana resepnya panjenengan bisa memiliki putra-putri yang jadi tokoh semua .

ye prihatin odekna nahka ngandung. Ngemis do ‘a seongguh-ongguh ka Pangeran. Bisa terakat, bisa puasa, bisa hatam qur ‘an seminggu/la harus hidup prihatin ketika mengandung. Mengemis dalam do’a dengan sungguh sungguh pada Alloh Swt. Bisa berwujud tirakat, puasa, mengkhatam Alqur’an tiap minggu”, kata Nyai kalem sambil tetap tangannya bergerak-gerak menandakan hitungan dzlkir hatinva. Nyai Zainab memang ahli berdzikir dan membaca sholawat.

Tepat pada Selasa Subuh tanggal 22 Dzulhijjah/September 1981 M), Nyai Zainab wafat dengan senyuman surganya. Nyai Zainab Shiddiq dimakamkan di Turbah Condro, ditempatkan bersama makam Abah dan saudara-saudaranya. Beliau wafat setelah berhasil menvelesaikan tugas beratnya yaitu mendidik anak-anaknya sampai jenjang yang tinggi dan menghantarkan pada jenjang pengabdian ketokohannya di masyarakat. Dengan kesederhanaan, kesabaran dan keteguhan serta keistiqomahannya, Nyai Zainab Shiddiq telah melahirkan tokoh-tokoh besar pada zaman itu

Beberapa tahun kernudian, orang Banyak dikejutkan dari makamnya. Ketika itu orang sedang menggali makam Kyai Abdullah Shiddiq yang tempatnya bersebelahan dengan makam Nyai Zainab. Tanpa terduga, cangkul si penggali kubur mengenai kafan mayat Nyai Zainab, yang ternyata masih utuh dan berbau harum semerbak. Cepat-cepatlah ditutup tanah lembaran kafan yang muncul itu. Tetapi harumnya masih semerbak dan dapat tercium oleh pelayat yang lain.

Allah Swt. menunjukkan bahwa hambanya yang sholihah seperti Nyai Zainab, mengharomkan pada tanah dan binatang binatang melata, untuk mendekati mayat sucinya. Derajat itulah pertanda nyata bagi seorang Waliyullah. Untuk mengenang jasa beliau, sejak tahun 1981 namanya di abadikan pada penggantian nama PP Alawi’yah, yang sejak wafatnya hingga sekarang pesantren tersebut bemama “PP. Zainab Shiddiq”(Sumber ; Buku Biografi Mbah Shiddiq)

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: